18 November 2013

kegagalan adalah guru yang paling bijak

success
Sukses Kegagalan adalah guru yang paling bijak. Orang sukses adalah orang yang terus mencoba, meskipun telah mengalami banyak kegagalan. Mereka tidak pernah berhenti mencoba dan mencoba lagi. Hidup bagi mereka adalah peluang untuk mencapai kesuksesan. Kiat-kiat berikut ini disarikan dari hasil penelitian terhadap orang-orang sukses. Apa sebenarnya yang mereka ketahui dan lakukan untuk menjadi sukses?
Berikut kiat menjadi orang sukses yang bisa Anda teraplkan:

* Orang ukses mau mengambil resiko. Mereka berupaya untuk mencapai target, melakukan penghematan, membangun relasi dengan banyak orang dan gesit mencoba sesuatu yang baru guna mengikuti perkembangan zaman, dan mau terus mengambil resiko untuk meraih sukses.

* Orang sukses percaya diri dan merasakan bahwa mereka berbuat sesuatu untuk dunia. Mereka memandang sebuah dunia yang besar dan ingin memainkan peranan penting di dalamnya. Mereka tetap bekerja sesuai ketrampilan mereka, sambil tetap menyadari bahwa ketrampilan ini memberi nilai kepada ketrampilan lainnya. Mereka juga sadar, karya terbaik akan menghasilkan kompensasi bagi mereka.

* Orang sukses menikmati apa yang sedang mereka lakukan. Mereka mampu melihat pekerjaan sebagai kesenangan, mereka memilih bekerja di mana mereka dapat unggul. Orang sukses menyukai tantangan, mereka menikmati pencapaian puncak permainan mereka, apakah di pekerjaan, lapangan tennis atau lapangan golf.

* Orang sukses adalah pelajar seumur hidup. Mereka menyadari, pendidikan tak pernah berakhir tapi dimulai di setiap tingkatan kehidupan dan terus berlanjut hingga akhir kehidupan. Pendidikan tidak terbatas di ruang kelas, artinya mencoba ide baru, membaca buku, surat kabar, majalah dan menggunkan internet merupakan bentuk pendidikan pula. Karena itu tetaplah mengalir sesuai perubahan ketertarikan dan kemampuan Anda, dan nikmati perubahan. Ini akan membantu Anda tumbuh dan merasakan lebih percaya diri.

* Orang sukses berpandangan positif terhadap apa yang dapat mereka kerjakan, dan ini meluas pada hal-hal lain. Mereka percaya gelas itu setengah penuh dan bukan setengah kosong. Mereka menanamkan semangat pada diri sendiri dan dapat membayangkan diri bagaimana mereka berhasil menyelesaikan suatu tugas sulit atau mencapai penghargaan tertinggi. Orang sukses berbuat bagaikan pelatih bagi orang lain, dengan menyuguhkan pesan-pesan positif dalam kehidupan sehari-hari. Mereka senang melihat orang lain membuat tonggak sejarah dalam kehidupan mereka.

* Orang sukses punya banyak cara untuk memotivasi diri sendiri sehingga dapat terus berkarya lebih baik dari yang lain. Ada yang dengan cara melakukan beberapa pekerjaan setiap hari pada bidang berbeda.

* Orang sukses menyelesaikan tugas tidak dengan setengah-tengah, dan mereka menggunakan cara kreatif dalam meraih sukses. Meski mungkin membutuhkan waktu lebih lama, mereka akhirnya melampaui garis finish. Mereka memanfaatkan waktu dengan baik dalam mensinergikan kemampuan fisik dan mental untuk mencapai sukses.es dalam Kehidupan

moga andah semua bisa dapat memahami dengan baik.

opini unutk keceriaan__


By : Step Makituma Pigai

8 November 2013

Bung Sander
surabaya, 08/11/2013. Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua kota study surabaya  (AMP). Telah turung jalan "Ngamen". AMP mengamen di dua titik tempat yaitu; Depan jalan hotel Syaid dan depan jalan kebung bintang surabaya.

Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) baru Dua minggu saja di lantik, namum sangat luar biasa perjuangan pengurus baru ini. Tlah berjiwa besar demi perjuangan untuk menyukseskan penyembutan Hari Ulang tahun (HUT) kemerdekaan West Papua yang ke-52.

Dalam perjalana ngamen tersebut,  Sekjen AMP Surabaya Bung Sander mengastakan bhawa, Kawan-kawan suatu perjuangan itu bukan untuk seseorang saja, tetapi perjuang pembebasan itu Hak kita bersama, maka marilah kawan-kawan kita satukan langka demi memperjuangkan Alam dan seluruh seisi bumi west papua.

lanjut Bung Sander, Kalau bukan sekarang kapan lagi. Anda, Aku, dan Kita kalau tidak bergerak melawan collonialisme maka segala hak; kekayaan alam di rampas. Bhakan kami manusia pun,  akan di budakan oleh para pihak penjajah (NKRI).

wa...wa...wa


Sallom Kompak


Write: Step Makituma


7 November 2013

KRONOLOGIS SINGKAT TERTEMBAKNYA JENDERAL KELLY KWALIK PANGLIMA KODAP III 16 DESEMBER 2009 DI PERKAMPUNGAN WARGA GORONG-GORONG TIMIKA PAPUA


Jenasa Jenderal Kellykwalik
Jenasa Kellykwalik
Jenderal Kelly Kwalik lahir tahun 1955 di Agimuga, menempuh Pendidikan Sekolah Dasar (SD) hingga 1969 di kampung Aromsomki, Agimuga. Selama dua tahun melanjutkan pendidikan ke SGB (Sekolah Guru Bawa) di Suwai Kabupaten Fak-fak kemudian melanjutkan pendidikan ke SPG (Sekolah Pendidikan Guru) Yayasan Pendidikan Persekolah Katolik Taruna Bakti Biak kemudian pindah SPG Taruna Bakti Jayapura tahun 1974, setelah menamatkan SPG Jayapura dipersiapkan sebagai guru di wilayah pegunungan tengah Papua yaitu di Mapenduma. Namun kondisi dilapangan saat itu terjadi pembantaian besar-besaran yang tidak manusiawi dilakukan oleh aparat militer Indonesia terhadap rakyat Papua, maka Jenderal Kelly Kwalik memilih untuk melarikan diri ke hutan sebagai tanda protes terhadap sikap aparat keamanan Indonesia. Jenderal Kelly Kwalik mulai saat itu menjadi seorang gerilyawan melakukan perlawanan dengan militer Indonesia, di wilayah Pegunungan Tengah Papua dalam operasi pembantaian besar-besaran pada tahun 1974-1977. Nama Jenderal Kelly Kwalik mulai muncul sebagai salah satu tokoh Pembebasan bangsa Papua. Jenderal Kelly Kwalik merupakan salah satu tokoh sentral TPN-OPM, dengan semangatnya tersendiri memperjuangkan hak-hak dasar dan hak Politik Bangsa Papua. Kurang lebih 35 Tahun secara konsisten melakukan perlawanan di tengah hutan rimba Papua. Jenderal Kelly Kwalik terakhir menjabat sebagai panglima Komando Daerah Perjuangan (KODAP) III.
Jenderal Kelly Kwalik seorang militer tapi dalam metode gerilyanya sangat moderat dan rasional dengan mengedepankan hak asasi manusia dan norma-norma hukum. Jenderal Kelly Kwalik tidak pernah menghancurkan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, tapi memperjuangkan hak kedaulatan kebangsaan Bangsa Papua 1 Desember 1961 yang diambil secara paksa oleh kolonialisme Indonesia atas konspirasi Amerika melalui New York Agreement dan Roma Agreement.
Jenderal Kelly Kwalik mengabdikan diri untuk tanah Papua, sejak tahun 1974, mulai saat itulah Pemerintah Indonesia menganggap Jenderal Kelly Kwalik sebagai pengacau stabilitas integrasi NKRI sehingga dijadikan sebagai musuh abadi yang harus di hilangkan nyawanya. Tahun 2006 Jenderal Kelly Kwalik secara resmi di jadikan sebagai Daftar Pencaharian Orang (DPO) Polda Papua, atas kasus penembakan warga asing di Mille 72, apakah ini benar di DPOkan? Kenapa seorang DPO kemudian bisa beraudiensi dengan pihak kepolisian pada bulan September 2009 disalah satu tempat di Timika. Kurang lebih 3 tahun, aparat kepolisian dan TNI berupaya untuk menghabiskan nyawa Jenderal Kelly Kwalik, namun selalu gagal terus. Di tahun 2009 ini semua kekuatan diarahkan ke Timika, untuk musnahkan dalang yang meresahkan diareal bisnis emas terbesar dunia ini. Oleh sebabnya PT. Freeport Indonesia secara terbuka mendanai semua kekuatan untuk membunuh Jenderal Kelly Kwalik dengan memberikan biaya operasi keamanan lebih besar, dana ini ambil dari potongan gayi karyawan PT. Freeport Indonesia. (sumber dari manajemen PT. Freeport Indonesia).
Langkah-langkah strategis dilakukan oleh aparat kemanan untuk menembak Jenderal Kelly Kwalik adalah pendekatan persuasive yaitu bagun propaganda bahwa Kapolda Papua Irjend Bagus Ekodanto (mantan) mengatakan pelaklu bukan Jenderal Kelly Kwalik namun Pangdam Cederawasih Mejend. A. Nasution mengatakan pelakunya Jenderal Kelly Kwalik. Kapolda mengatakan hal tersebut karena anak buahnya sudah ketemu langsung dengan Jenderal Kelly Kwalik, ia mengatakan bahwa saya bukan pelaku, konflik diareal PT.Freeport Indonesia, pelakunya adalah aparat TNI dan Polri yang sedang memperebutkan lahan bisnis militernya di areal PT. Freeport Indonesia. Sayangnya pernyataan mantan Kapolda Papua disampaikan ke publik saat menyelang mutasi antara Irjend Bagus Ekodanto digantikan Irjend Bekto Suprapto. Kapolda baru Irjend Bekto Suprapto hiraukan pernyataan mantan Kapolda Papua kemudian mendukung pernyataan Pandam Cenderawasih bahwa dalang pengacauan di areal PT. Freeport Indonesia adalah Jenderal Kelly Kwalik, oleh sebabnya cara yang dilakukan Kapolda Papua adalah memutasikan kapolres Timika beserta jajaran strategis di bersihkan dan steril kemudian Kapolda Papua Irjend Bekto membangun jaringan baru berdasarkan informasi dan data yang telah di himpun oleh Kapolda lama, salah satu data adalah pertemuan dengan Jenderal Kelly Kwalik.
Isu yang dilemparkan ke Jenderal Kelly Kwalik sebelum ditembak adalah akan ada dialog antar bangsa Papua dengan bangsa Indonesia dalam rangka penyelesaian konflik politik yang berkepanjangan terjadi di tanah Papua jadi harus turun ke kota. Pihak pemerintah telah menyediakan biaya perjalanan dan akomodasi. Isu ini Jenderal Kelly Kwalik terima tanpa memperhitungkan kemungkinan buruk lainnya. Sehingga Jenderal Kelly Kwalik datang mendiam diri dirumah salah satu warga  selama satu minggu di Gorong-gorong Timika.
Ketika hitungan Intelejen Indonesia memastikan Jenderal Kelly Kwalik ada di Kota Timika, maka Intelejen Indonesia bergerak dengan menciptakan propaganda sebelum penembakan terhadap Jenderal Kelly Kwalik Tanggal 15 Desember 2009, yaitu pelantikan anggota DPRD Timika periode 2009-2014 dan pada malam hari terjadi pembakaran pasar di Timika kota saat itulah Jenderal Kelly Kwalik ditembak. Artinya perencanaan ini sudah dibuat sedemikian rupa agar alihkan perhatian masa ke pelantikan anggota DPRD Timika dan pembakaran Pasar di Timika, supaya dengan mudah menghilangkan dan mengambil nyawa Jenderal Kelly Kwalik.
RABU, 16 DESEMBER 2009
Jam 03.00 WP, Jenderal Kelly Kwalik berhasil ditembak oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri di gorong-gorong Timika. Jenderal Kelly Kwalik tertembak di paha kanan tembus ke paha kiri di salah satu rumah warga sipil di Timika, tertembaknya Jenderal Kelly Kwalik saat sedang tidur, seorang agen dari densus 88 menghampiri depan pintu kamar dimana Jenderal Kelly Kwalik sedang tidur kemudian mengetuk pintu dan memanggil nama untuk dibukakan pintu (dalam bahasa amungal), Jenderal Kelly Kwalik bangkit berdiri dari tempat tidur langsung buka pintu, setelah dibukakan pintu terperangkap dalam todongan senjata Densus 88, Jenderal Kelly Kwalik mundur dan keluar lompat melalui jendela dengan tujuan bisa menyelamatkan diri namun diluar sudah kepung sehingga berhasil melumpuhkannya melalui timah panas, tanpa ada perlawanan senjata dengan pihak Densus 88. Jenderal Kelly Kwalik langsung di evakuasi ke rumah sakit Karitas Kuala Kencana Timika. Dalam perjalanan dari TKP menuju ke Rumah Sakit Karitas Jenderal Kelly Kwalik menghembuskan nyawa karena kehabisan darah. Di tempat TKP juga pihak Densus 88 berhasil menyita beberapa barang saebagai alat bukti dan menangkap 5 orang sebagai saksi 4 orang laki-laki dan 1 orang perempuan kemudian diamankan Polres Mimika. Setelah di evakuasi jenasa Jenderal Kelly Kwalik di rumah sakit Karitas Timika, sekitar jam 11.00 WP Jenderal Kelly Kwalik diberangkatkan ke Jayapura melalui pesawat Buing Merpati untuk melakukan otopsi forensik di Rumah Sakit Bhayangkara Jayapura.
Di Timika setelah mendengar kabar bahwa Jenderal Kelly Kwalik ditembak, masyarakat dari berbagai suku di tanah Papua langsung mendatangi kantor DPRD Timika dengan membetangkan sejumlah tulisan-tulisan di spanduk dan pamphlet sebagai tanda protes terhadap penembakan Jenderal Kelly Kwalik yang tidak manusiawi dilakukan oleh aparat negara Republik Indonesia. Masa yang begitu besar mulai datang dari arah masing-masing penjuru komunitas mulai memadati halaman kantor DPRD Timika sehingga DPRD Timika dengan inisiatif memberikan izin tempat untuk melakukan duka dan prosesi upacara pemakaman. Masyarakat menempati di lingkungan DPRD Timika dengan membuka tenda-tenda, mendatangkan alat-alat masak secara spontan dari masyarakat untuk tinggal bertahan. Dengan menuntut bahwa, kami keluar dari lingkungan DPRD Timika ketika ada putusan politik yang jelas dari negara colonial Indonesia dan sekutunya tentang hak kebangsaan Papua 1 Desember 1969. Kalau tidak ada putusan politik yang jelas maka masa tetap bertahan di kantor DPRD Timika apapun resikonya.
Kejangkalan:
  1. Jenderal Kelly Kwalik sedang tidur tenang dirumah, kenapa tidak ditunjukan surat DPO atau perintah operasi, kemudian ditangkap sebagai saksi kunci untuk mengungkapkan serentetan konflik diareal PT. Freeport Indonesia.
  2. Jenderal Kelly Kwalik dijadikan tersangka bukan karena isu teroris tapi konflik pengamanan perebutan lahan bisnis diareal PT.Freeport Indonesia dan sekitarnya, namun cara penembakan terhadap Jenderal Kelly Kwalik seperti teroris.
  3. Tugas Polisi bukan untuk membunuh orang tapi untuk mengayomi dan menertibkan masyarakat. Juga untuk melumpuhkan seseorang tidak serta merta menembak tapi memberikan peringatan dulu, lalu melumpuhkan. Mestinya melalui protap yang formal tapi tindakan diluar protap.
  4. Aturan perang tidak pernah dimalam hari tapi harus disiang hari.
  5. Evakuasi jenasah ke rumah Sakit Karitas Kuala Kencana terlalu jauh, sesungguhnya ada rumah sakit umum daerah di Timika Indah jaraknya kurang lebih 2 KM dari TKP bisa menempuh waktu 15 menit.
  6. Pernyataan mantan Kapolda Papua Irjend. Drs. Bagus Ekodanto mengatakan, pelaku penembakan mille 54 pada juli 2009 bukan Jenderal Kelly Kwalik, tapi pelakunya kelompok kriminal bersenjata. Namun Kapolda Papua Irjen Bekto mengatakan pelaku penembakan dan dalang serentetan konflik diareal PT. Freeport Indonesia adalah Jenderal Kelly Kwalik.
  7. Jenderal Kelly Kwalik diangkap sebagai musuh negara, kenapa mayat harus dievakuasi kerumah sakit.
KAMIS, 17 DESEMBER 2009
Tim ahli forensik dari Makasar dan Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado tiba di Jayapura melakukan otopsi terhadap jenasa Jenderal Kelly Kwalik. Otopsi  lakukan dirumah sakit Bhayangkara Jayapura. Sebelum dilakukan otopsi keluarga korban maupun pihak-pihak yang berkompeten untuk membesuk jenasa tidak diizinkan oleh Kapolda Papua alasan demi keamanan. Yang datang minta kesempatan untuk membesuk adalah Ketua MRP, Anggota perwakilan Kamnas HAM Papua, Mama Yosepha Alomang, Pimpinan Sinode di Papua dan beberapa LSM. Sikap Kapolda Papua demikian, tapi informasih tertembaknya Jenderal Kelly Kwalik sudah menyebar di seluruh tanah Papua bahkan diluar tanah Papua melalui media maupun sarana komunikasi lainnya.
Disisi lain, untuk menjaga konflik susulan yang tidak beruntung manfaat politiknya, dilakukan komunikasi ke pihak-pihak terkait yang punya peran sentral untuk memfasilitasi dan menangani secara kontinju kasus tertembaknya Jenderal Kelly Kwalik baik pendekatan Hukum maupun pendekan Politik. Sehingga beberapa pimpinan langsung datang ke lokasi pemakaman di Timika untuk terlibat langsung dalam upacaranya dan lain berhalangan karena transportasi dll.
Kejangkalan:
  1. Keluarga Jenderal Kelly Kwalik tidak ditandatangani sebagai saksi dalam proses otopsi jenasa.
  2. Pejabat Negara DPRP, MRP, Komnas  dll mau besuk tidak diizinkan oleh Kapolda Papua, pada hal pihak-pihak ini sebagai pejabat Negara juga bisa sebagai saksi.
JUMAT, 18 DESEMBER 2009
Kapolda Papua mengundang sejumlah jajaran institusi Negara yang ada di tanah Papua mulai, Gubernur, DPR, MRP, TNI, Kejaksaan, Pegadilan dan jajaran pejabat lainnya datang ke Polda Papua melalukan pertemuan khusus terkait mengantisipasi gesekan-gesekan dari rakyat Papua. Saat yang sama juga pernyataan dari manajemen PT. Freeport Indonesia mengatakan bahwa tertembaknya Jenderal Kelly Kwalik maka bisnis terbesar tambang emas di Freeport Indonesia akan aman dan lancar, tidak ada lagi gangguan keamanan. Karena ketika terjadi gangguan keamanan dipimpin oleh Jenderal Kelly Kwalik diareal PT. Freeport Indonesia yang berdampak pada kerugian di perusahaan yang besar pada pos dana operasional pengamanan.
Rakyat Papua di kantor DPRD Timika menuntut jenasah Jenderal Kelly Kwalik dikembalikan ke keluarga dan 5 (lima) orang yang ditangkap saat penembakan Jenderal Kelly Kwalik sebagai saksi harus bebaskan demi hukum, karena pelaku yang selama ini sebagai target dan DPO sudah ditembak. Sehingga 4  (empat) orang di bebaskan dari tahanan Polres Mimika dan satu orang di tahan atas nama Jeep Murib karena terbukti membawa sebuah peluruh senjata Api
Kejangkalan:
  1. Hasil Otopsi dari Tim Forensik tidak sampaikan secara terbuka ke Publik.
  2. PT.Freeport Indonesia telah memfasilitasi baik dana dan transportasi untuk menghilangkan hak hidup dan mencabut nyawa seseorang tidak merasa bertanggungjawab tapi menyetujui penembakan dan merasa bersyukur telah tertembak Jenderal Kelly Kwalik.

SABTU, 19 DESEMBER 2009
Masyarakat mendapat informasih bahawa jenasa sedang antara ke Timika dari Jayapura,  masa mendatangi di Bandara PT. Freeport Indonesia Moses Kilangi, dengan maksud memikul jenasa Jenderal Kelly Kwalik antar ke kantor DPRD Timika, situasi Timika tegang. Panser-panser militer diarahkan ke masa semua. Namun dengan komunikasi yang baik oleh tokoh mudah bapak Hans Magal, sehingga emosi masa dikendalikan dan masa kembali ke DPRD Timika.
Jam 12.00 WP, jenasa Jenderal Kelly Kwalik dari rumah sakit Bhayangkara Jayapura diberangkatkan ke Timika melalui pesawat suci air dengan pengawalan langsung oleh Direskrim Polda Papua Kombes Petrus Waine dan AKBP Stevanus Adii. Sampai di Timika jenasa antar ke Rumah Sakit Karitas Kuala Kencana Timika untuk disemayamkan sementara sebelum serahkan ke keluarga.
Sebelum jenasa Jenderal Kelly Kwalik tiba ditangan keluarga dalam hal ini Dewan Adat Papua dari Kepolisian, rakyat Papua duduk lakukan pertemuan untuk mengatur mekanisme penerimaan jenasa. Dari hasil pertemuan terbentuklah tim penerimaan jenasa Jenderal Kelly Kwalik dan menentukan protokoler upacara pemakanan.  Para pimpinan rakyat Papua dan keluarga korban sepakat tidak ditandatangani berita acara penerimaan jenasa karena ketika ditandatangani maka peristiwa penembakan terhadap Jenderal Kelly Kwalik yang tidak manusiawi tersebut diterima oleh rakyat Papua agar dikemudian hari tidak ada masalah.
Kejangkalan:
  1. Materi dalam berita acara tidak meyebutkan keterlibatan Jenderal Kelly Kwalik menganggu proses eksplorasi penambagan emas di areal PT. Freeport dan penembakan warga Amerika di mille 72 tahun 2006 serta mille 54, juli 2009, tapi menyebutkan Jenderal Kelly Kwalik memegang senjata Api tanpa izin dan sebagai otak kasus di Mapenduma tahun 1996.
  2. Berita acara sesungguhnya dibuat secara bersama antara pihak Pemerintah Indonesia dalam hal ini aparat keamanan dan keluarga korban bangsa Papua tapi berita acara dibuat secara sepihak dengan kop Polda Papua.
MINGGU, 20 DESEMBER 2009
Jam 15.00 WP, jenasa Jenderal Kelly Kwalik dari rumah sakit karitas dengan pengawalan ketat oleh satgas Amole (TNI dan densus 88) menuju ke gedung DPRD Timika untuk diserahkan ke pihak korban. Yang mewakili pihak korban menerima jenasa adalah Ketua dan anggota DPRD Timika, kemudian langsung diserahkan ke Rakyat Papua, saat memasuki lingkungan DPRD Timika pasukan TPN-OPM langsung menerima jenasa Jenderal Kelly Kwalik secara militer kemudian disemayamkan di depan kantor DPRD Timika, diatas peti jenasa ditutupi dengan bendera bintang Fajar.
Setelah jenasa Jenderal Kelly Kwalik disemayamkan di depan Kantor DPRD Timika, Dewan Adat Papua menyampaikan pandangan umum tentang tata cara dan mekanisme upacara pemakaman. Setelah itu pandangan dari dewan adat daerah Timika dalam hal ini Lemasa, saat menyampaikan pandangan dari Lemasa terjadi protes oleh masyarakat karena komunikasi yang tidak terarah disampaikan oleh pimpinan Lemasa. Masa semua berdiri saling serang kejar-kejaran baik ke pihak aparat keamanan maupun kepihak pimpinan yang sedang memandu dan memfasilitasi pemakaman, kericuan terjadi kurang lebih 30 menit. Aparat keamanan memberikan tembakan peringatan untuk masa kembali tenang. Akhirnya masa kembali tenang, melanyutkan persiapan upacara pemakaman Jenderal Kelly Kwalik.
Reaksi spontanitas ini terlihat ada pihak yang memprofokasi masalah kematian Jenderal Kelly Kwalik dapat dilokalisir dengan menciptakan konflik horizontal agar masalah ini tidak menginternasionalisasikan. Namun berbagai langkah dan komunikasi yang terarah dengan prinsip Jenderal Kelly Kwalik dipandang sebagai salah satu Tokoh sentral dalam Pembebasan bangsa Papua sehingga situasi kembali kondusif.
Setelah jenasa Jenderal Kelly Kwalik di semayamkan di DPRD Timika, diatas kepala membicarakan pokok-pokok tuntutan rakyat Papua atas kematian yang tidak manusiawi tersebut dengan menerima masukan dari masyarakat untuk dipertimbangkan sebagai agenda perlawanan bersama. Selain itu menentukan tempat dimakamkan Jenderal Kelly Kwalik. Perdebatan cukup alot untuk menyampaikan pokok pernyataan dan tempat makam, karena masing-masing menyampaikan agenda pesan sponsor. Hal ini nampak bahwa, awalnya makam Jenderal Kelly Kwalik di bundaran bandara PT. Freeport Indonesia Moses Kilangi Timika, namun pihak yang punya hal ulayat diintervensi oleh manajemen PT. Freeport Indonesia sehingga tempat makamnya dialihkan ke lapangan Timika Indah. Pokok pernyataan juga banyak yang pro kontra namun berhasil disepakati dan dirumuskan:
  1. Negara Republik Indonesia telah menodai suasana hajatan makna Natal umat Kristiani dan telah melanggar hak hidup Jenderal Kelly Kwalik secara tidak manusiawi berdasarkan asas dan norma kemanusian. Ini merupakan pembunuhan kilat dan pencabutan nyawa seseorang secara paksa dan terencana. Sehingga Dunia dan masyarakat Internasional segera mengutuk dan memberikan sangsi keras terhadap perilaku Aparat Keamanan Negara Republik Indonesia di atas Bangsa Papua.
  2. PT. Freeport Indonesia, sebagai penyandang dana dan pendukung fasilitas dalam rencana pembunuhan anak adat Jenderal Kelly Kwalik, karena PT. Freeport Indonesia yang punya berkepentingan dalam pembunuhan Jenderal Kelly Kwalik demi pengamanan Investasi penambangan emas di Nemangkawi. Maka PT. Freeport Indonesia harus di Tutup dan Bertanggungjawab penuh terhadap Dewan Adat Papua untuk menyelesaikan semua masalah tentang hak-hak Hidup dan Hak Politik Bangsa Papua secara menyeluruh atau komperhensip, integral, setara, adil, beradab, bermartabat dan tuntas harus digelar Dialog atau Perundingan antar bangsa Papua dan Bangsa Indonesia dalam tahun 2010 yang dimediasi oleh PBB. Batas waktu point a dan b bulan Januari – Februari 2010.
  3. Bahwa peristiwa penembakan warga berkebangsaan Australia Mr. Drew Nicholas Grant dan korban lain di Areal PT. Freeport Indonesia mile 52-54 Timika Papua pada bulan Juli 2009, sampai hari ini belum terungkap pelakunya, maka atas nama bangsa Papua hendak kami sampaikan kepada dunia Internasional bahwa Jenderal Kelly Kwalik bukan pelaku penembakan teragedi kemanusian di Areal PT. Freeport Indonesia.
  4. Perjuangan bangsa Papua bukan merusak negara manapun di dunia ini, termasuk tidak berniat merusak negara Indonesia. Oleh karena itu, setiap bangsa dan negara di dunia harus menghargai hak-hak azasi dan hak Politik bangsa Papua dan mewujudkannya penuh pada tahun 2010.
Kejangkalan:
  1. Kebebasan menentukan sikap Politik sebelum Pemakaman Jenderal Kelly Kwalik, diintervensi dari manajemen PT. Freeport Indonesia agar dampak tertembak Jenderal Kelly Kwalik jangan sampai melibatkan PT. Freeport Indonesia.
  2. Manajemen PT. Freeport Indonesia melakukan upaya keras untuk pemakaman tidak di Bundaran bandara Moses kilangi, akhirnya berhasil upayanya kemudian dialihkan lapangan Timika Indah.
SENIN, 21 DESEMBER 2009
Jam 12.00 WP, misa reguim dipimpin oleh Uskup Keuskupan Timika Mgr. Jhon P. Saklil. Uskup dalam khotbahnya mengatakan bahwa Jenderal Kelly Kwalik memperjuangkan untuk menegakkan hak-hak dasarnya termasuk hak politik, sehingga secara konsisten dan berkomitmen penuh menahan diri di hutan rimba, mengalaskan papan menjadi kasur, salju menjadi selimut baginya, tidak pernah mengemis kepada siapapun. Jenderal Kelly Kwalik telah menunjukan ketokohannya dalam menyelamatkan umat manusia dari kepunahan oleh kolonialisme Indonesia. Oleh sebab itu saya mengutuk keras para pelaku yang telah mencabut nyawa seseorang tanpa ada perlawanan. Bagi yang kita sedang hidup, perlu memetik makna ketokohan dari padanya, agar kita teguh dalam perjuangan hidup kita. Untuk itu kita harus duduk berbicara dan bertindak diatas tanah yang keras, bukan di atas lumpur. Setalah misa dilanyutkan memberikan penghormatan terhadap jenasah Jenderal Kelly Kwalik. Dan diumumkan makam tanggal 22 Desember 2009 di lapangan Timika Indah.

SELASA, 22 DESEMBER 2009
Jam 11.00 WP pembacaan pidato Ketua Umum Dewan Adat Papua di halaman kantor DPRD Timika, setelah itu penghormatan terakhir  terhadap Jenderal Kelly Kwalik. Jam 15.00 WP jenasa diarak-arakan ke makam di Timika Indah yang telah disiapkan oleh Panitia. Setelah pemakaman ditutup dengan doa yang dipimpin oleh pater Amandus. Masyarakat bubar ke tempat masing-masing untuk mempersiapkan pesta natal namun yang lain kembali ke DPRD Timika untuk duduk bertahan sampai ada salusi final.
Demikian ulasan singkat gambaran kondisi Timika pasca penembahkan Jenderal Kelly Kwalik. Kiranya tragedy kemanusiaan DI TANAH PAPUA yang terus terjadi dan  menimpa semua insan manusia ciptaan Allah dapat berakhir untuk selamanya.
Jayapura, 30 Desember 2009

http://infokamuky.wordpress.com/2009/12/30/kronologis-singkat-tertembaknya-jenderal-kelly-kwalik-panglima-kodap-iii-16-desember-2009-di-perkampungan-warga-gorong-gorong-timika-papua/

4 November 2013

Logis Indonesia menjadi Negara gagal

Oleh : Socratez Sofyan Yoman

 

Socratez Sofyan Yoman
FIC YOMAN
“Adalah logis Indonesia menjadi Negara gagal karena sejak penyerahan kedaulatan nasional dari Belanda ke Indonesia tidak pernah ada usaha kolektif berupa pembangunan nasional yang sistematik, koheren, konsisten, terarah, dan kontinu. Yang selama ini dilakukan oleh penguasa Negara silih berganti adalah pembangunan bidang ekonomi berdasarkan resep penalaran ekonomika, Bank Dunia, IFM, dan lembaga finansial internasional lainnya. Kedua usaha ini memang saling terkait, tetapi jelas berbeda secara fundamental dalam tujuan dan ukuran suksesnya”.  (Daoed Joeseof, Alumnus Universite Pluridisciplinaires Pantheon-Sorbonne, Opini  Kompas, Kamis, 12 Juli 2012, hal.6).
Wajah dan representasi  Kegagalan Negara Indonesia dapat diukur salah satunya dari realitas kehidupan Penduduk Asli  Papua.  Kemiskinan penduduk Asli Papua sangat nyata dan telanjang di depan mata kita. Kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) Tanah Papua sangat melimpah. Emas, perak, ikan, hutan,rotan, minyak ada di Tanah Papua. Papua memberikan sumbangan terbesar kepada Indonesia setiap tahun. Contoh: PT Freeport  perusahaan milik Amerika ini memberikan sumbangan pajak  kepada Indonesia (Jakarta) Rp 18 Triliun setiap tahun.  Ini belum termasuk, sumbangan pajak dari  British Petrolium (BP) milik Inggris di Bintuni, Manokwari dan  pajak minyak yang diproduksi di Sorong.    Sementara rakyat Papua pemilik dan ahli waris Tanah yang kaya raya ini dibantai seperti hewan dengan diberikan stigma separatis, makar dan anggota OPM. Dan juga dibuat tak berdaya dan dimiskinkan permanen secara struktural,  sistematis  oleh penguasa Pemerintah Indonesia.
Misi utama Indonesia menganeksasi, menduduki dan menjajah Papua ialah kepentingan ekonomi dan politik. Untuk mempertahankan dan mengkekalkan  kepentingan ekonomi dan politik itu, pemerintah Indonesia selalu menggunakan semua instrumen hukum, Undang-Undang,  kekuatan politik dan keamanan untuk menangkap, mengejar, menembak mati, membunuh, menculik, menyiksa dan memenjarakan Penduduk Asli Papua dengan  label separatisme. Memang, ironis, nasib dan masa depan Penduduk Asli Papua dalam Indonesia. Pemerintah Indonesia dengan tangan besi, kejam dan brutal yang benar-benar menghancurkan harkat, martabat, hak-hak dasar dan masa depan Penduduk Asli Papua di atas Tanah leluhur mereka.
Barometer Indonesia Negara gagal juga dilihat dari beberapa indikator  pada skala Nasional. Pertama, Pilar Negara seperti nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi Negara dan bangsa dan UUD 1945 sebagai landasan konstitusi Negara RI tidak diterapkan dengan baik dalam bernegara, berbangsa dan bermasyarakat, bahkan sama sekali tidak berfungsi atau bisa dikatakan lumpuh. Kedua, kekerasan dan kejahatan Negara  terhadap  warga Negara   meningkat tajam. Rakyat sipil diperhadapkan dengan kekuatan Negara.  Ketiga, korupsi merajalela di birokrasi Pemerintah, aparat penegak hukum dan munculnya pahlawan-pahlawan koruptor yang benar-benar merusak dan meruntuhkan sendi-sendi Negara RI. Keempat, kekerasan dan kejahatan atas nama agama dan arogansi mayoritas terhadap penduduk minoritas dan pelakunya tidak pernah ditangkap dan diproses hukum. Hukum diskriminatif bertumbuh subur di Indonesia. Kelima, lemahnya penegakkan hukum di Indonesia. Hukum berpihak kepada penguasa dan orang-orang yang memiliki kedudukan dan yang banyak uang. Keenam, meningkatnya secara tajam kemiskinan dan jurang besar antara kaya dan miskin yang terlihat di depan mata kita di mana-mana di seluruh Indonesia. Ketujuh, banyak Partai Politik dan kepentingannya yang tidak memperjuangkan kepentingan rakyat, Negara dan bangsa tapi lebih mementingkan dan mengutamakan kepentingan dan kemajuan partai politik. Banyak partai politik menciptakan jurang besar disintegrasi sosial  dan disharmoni kebangsaan yang benar-benar melumpuhkan solidaritas sebagai warga Negara. Ingat! Separatisme sesungguhnya sudah subur di Jawa dekat ibu kota Negara RI bukan di Tanah Papua. Contoh: Negara Islam Indonesia (NII), pelarangan dan penutupan Gereja-gereja di Jawa dan pelarangan Gereja GKI Yasmin  Bogor oleh seorang Walikota Bogor. Apakah ini bukan gerakan separatis?  Semboyan Bhineka Tunggal Ika tercabik-cabik di depan  mata penguasa yang sedang menindas Penduduk Asli Papua.
Kembali pada paradox Separatisme, Realitas kemiskinan struktural dan permanen di Papua. Kesan saya, ada konspirasi ekonomi dan politik antara dua Negara dan bangsa.  Pemerintah Amerika Serikat,  menempatkan Pemerintah Indonesia di Tanah Papua sebagai “satpam” penjaga  “kebunnya” Amerika Serikat,   PT Freeport,  yang sedang merampok, melakukan pencurian, dan penjarahan besar-besaran hak milik Penduduk Asli Papua. Pemerintah Indonesia sebagai “satpam” penjaga ini juga mendapat beberapa keuntungan: Dia (Indonesia) mendapat royalti 18 Triliyuan setiap tahun. Sementara menjadi penjaga, dia membantai dan memusnahkan Penduduk Asli pemilik Tanah.  Indonesia juga mendatangkan penduduk Indonesia dipindahkan ke Papua yang dikemas dengan Program Transmigrasi dan di tempatkan di lembah-lembah subur di seluruh Tanah Papua. Perampokan Tanah milik Penduduk Asli Papua  dan menyingkirkan (memarjinalkan) mereka bahkan penduduknya dibunuh secara kejam atas nama pembangunan nasional.  Pemerintah Amerika Serikat mempunyai kepentingan ekonomi di Indonesia dan Papua, sedangkan Pemerintah Indonesia sebagai “satpam” penjaga mempunyai kepentingan ekonomi dan politik untuk menguasasi Tanah Papua dengan memusnahkan (genocide)  Penduduk Asli Papua dengan stigma Separatisme, OPM dan berbagai bentuk pendekatan.
Sudah waktunya Pemerintah Indonesia menjadi malu dan harus berterima kasih banyak kepada Penduduk Asli Papua yang menyumbangkan Rp 18 Triliyun dari hasil tambang emas Papua kepada Indonesia setiap tahun. Sebaliknya, apa yang didapat oleh Penduduk Asli Papua dari Negara Indonesia? Tapi, sayang, Presiden SBY tanpa rasa malu dan dengan gemilang  mengkampanyekan bahwa Separatisme harus dihentikan. Tujuan Presiden RI, SBY,  mengkampanyekan  isu separatisme di Papua adalah: Pertama,  untuk menyembunyikan  kejahatan dan kekerasan terhadap kemanusiaan, kejahatan ekonomi,  kegagalan melindungi dan membangun penduduk Asli Papua. Kedua, untuk menyembunyikan kemiskinan Penduduk Asli Papua yang menyedihkan di atas kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Ketiga, untuk membelokkan akar masalah Papua yang dipersoalkan Penduduk Asli Papua tentang status politik, sejarah diintegrasikannya Papua ke dalam wilayah Indonesia melalui PEPERA 1969 yang cacat hukum, dan pelanggaran HAM yang kejam. Seperti disampaikan Paskalis Kossay: “sumber permasalahan dari konflik di Papua bukan hanya sekedar masalah ketidaksejahteraan masyarakat ataupun kegagalan pembagunan. Kenyataan yang ada di Papua sebenarnya persoalan sejarah politik yang berkelanjutan. Orang Papua merasa proses integrasi Papua ke NKRI itu tidak adil dan tidak demokratis” (Papua Pos, Sabtu, 14 Juli 2012).   Keempat, membelokkan atau mengalihkan perhatian dari  rakyat Indonesia dan komunitas Internasional tentang kegagalan  Otonomi Khusus.  Kelima, pemerintah Indonesia berusaha membelokkan dukungan kuat untuk dialog damai antar rakyat Papua dan  Pemerintah Indonesia ke isu separatisme.  Keenam, persoalan pelik dan kompleks yang berdimensi vertikal antara Pemerintah Indonesia dan rakyat Papua yang sudah berlangsung empat dekake sejak 1Mei 1963- sekarang ini mau dialihkan atau direduksi ke masalah orizontal dengan mengkriminalisasi gerakan dan perlawanan moral seperti Komite Nasional Papua Barat (KNPB).
Freddy Numbery, dalam opini Kompas, Jumat, 6 Juli 2012, hal. 6 dengan topik: “Satu Dasawarsa Otsus Papua” menyatakan: “ Sumber-sumber agraria milik masyarakat adat dieksploitasi dalam skala besar tanpa menyejahterakan pemiliknya. Sebaliknya marjinalisasi berlangsung di mana-mana. Pelurusan sejarah yang juga diamanatkan Undang-Undang Otsus tidak pernah disentuh. Persoalan kekerasan oleh Negara tidak diselesaikan, malah bereskalasi. Penambahan pasukan dari luar terus berlangsung tanpa pengawasan. Kebijakan demi kebijakan untuk Papua sudah diterapkan Jakarta, tetapi tak bertaji menyelesaikan masalah”.
Sementara Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Haris Azhar pada Kompas, Jumat, 8 Juni 2012,  menyatakan: “Polisi dan pemerintah tidak hanya gagal menjamin rasa aman masyarakat, tetapi juga tidak pernah memberikan kepastian hukum, seperti menangkap pelaku penembakan gelap dalam tiga tahun terakhir. Khawatir terjadi pengambinghitaman kelompok seperatis melalui tuduhan-tuduhan semata dan diikuti dengan penangkapan semparangan. Pertanyaan mendasar adalah siapa yang mampu melakukan kekerasan, teror, dan pembunuhan misterius secara konstan? Peristiwa demi peristiwa ini merendahkan kehadiran aparat keamanan di Papua”.
Sedangkan Direktur Eksekutif Imparsial, Poengky Indarti pada Suara Pembaruan, Jumat, 8 Juni 2012, hal. 14,  mengatakan: “Para pelaku penembakan misterius adalah orang atau kelompok terlatih. Motif politik semakin kuat, mengingat stigma yang selalu dilabelkan pada Papua adalah daerah separatis. Akan tetapi mengingat kelompok-kelompok tersebut berada di tengah hutan, tidak terkonsolidasi, adalah sangat janggal jika kelompok tersebut yang selalu dituding Pemerintah sebagai pelaku penembakan misterius yang terkjadi di Papua selama ini”.  Cornelis Lay, dosen Ilmu Pemerintahan dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, menilai, ada inkonsistensi pemerintah dalam mendekati persoalan di Papua. Pemerintah mengaku melakukan pendedekatan kesejahteraan untuk meredam bara konflik. Namun, misalnya, saat terjadi persoalan di Papua, yang datang adalah Menko Polhukam bersama Panglima TNI dan Kepala Polri. Ini kan wajah pendekatan keamanan, bukan kesejahteraan”. (Kompas,  Rabu, 4 Juli 2012, hal. 15).
Pemerintah Indonesia dengan sukses mengkekalkan, mengabadikan, melembagakan dan melegalkan secara permanen stigma separatis, makar dan anggota OPM terhadap Penduduk Asli Papua. Semua stigma itu menjadi instrumen permanen dan surat ijin untuk menjastifikasi tindakan-tindakan kekerasan dan kejahatan kemanusiaan terhadap Penduduk Asli Papua.  Ruang ketakutan diciptakan sengaja, dipelihara  oleh aparat keamanan dengan stigma Separatis dan OPM  supaya: (a)  Penduduk Asli Papua dibungkam dan  tidak berani melakukan perlawanan untuk mempertahankan martabat (dignity),  demi masa depan yang penuh harapan, lebih baik,  damai  di atas  Tanah  leluhurnya; (b) Aparat keamanan mendapat dana pengamanan.
Kemiskinan Penduduk Asli Papua bukan merupakan warisan nenek moyang dan leluhur rakyat dan bangsa Papua. Karena sejarah membuktikan bahwa sebelum Indonesia datang menduduki dan menjajah Penduduk Asli Papua, Orang Asli Papua   adalah orang-orang kaya, tidak bergantung pada orang lain, mempunyai sejarah sendiri, hidup dengan tertip dengan tatanan budaya yang teratur, tidak pernah diperintah oleh orang lain. Penduduk Asli Papua adalah orang-orang yang merdeka dan berdaulat atas hidup, dan hak kepemilikan tanah dan hutan yang jelas secara turun-temurun. Orang Asli Papua sudah ada di Tanah ini (Papua) sebelum namanya Indonesia lahir.  Kemiskinan Penduduk Asli Papua adalah merupakan hasil (produk)  dari  sistem pemerintahan dan penjajahan ekonomi yang dilakukan oleh Indonesia dengan sengaja, sistematis dan jangka panjang atas nama  pembagunan nasional yang semu.
Solusi dan keputusan politik yang legal Pemerintah Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus  yang disahkan melalui lembaga resmi DPR RI dan didukung komunitas Internasional dan juga diterima sebagian rakyat Papua dan sebagian besar dipaksa menerima Otsus. Sayang,  Otonomi Khusus itu dinyatakan oleh banyak pihak, termasuk Negara Asing Pemberi donor dana bahwa  telah gagal . Pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) yang lebih rendah dari UU No. 21 Tahun 2001.  UP4B adalah instrumen Pemerintahan SBY untuk memperpanjang dan meng-kekal-kan pendudukan, penjajahan, kejahatan,  kekerasan Negara, penderitaan, kemiskinan, ketidakadilan dan marjinalisasi Penduduk Asli Papua.
Jadi, kesimpulannya, yang jelas dan pasti tanpa ragu-ragu:  Pemerintah Indonesia berusaha dan bekerja keras untuk mencuci tangan, melempar tanggungjawab dan menyembunyikan diri atas kegagalan,  kejahatan terhadap  penduduk Asli Papua (pelanggaran HAM) yang kejam dan brutal, mengalihkan kemiskinan struktural dan permanen yang diciptakan Negara terhadap Penduduk Asli Papua selama ini  dengan mengkampanyekan Separatisme harus dihentikan.  Kampanye ini untuk  memperlihatkan kepada rakyat Indonesia dan komunitas internasional bahwa   kekerasan di Papua dilakukan oleh Penduduk Asli Papua dengan membunuh Mako Musa Tabuni pada siang bolong dengan cara kriminal, kejam dan watak premanisme. Pemerintah Indonesia berlindung dibalik stigma separatisme.  Indonesia telah gagal menjaga martabat manusia Papua, sebaliknya Pemerintah  selalu merendahkan martabat rakyat Papua dengan stigma Separatis dan OPM. Pemerintah Indonesia sudah lama memperlihatkan wajah kekerasan dan anti kedamaian.  Pemerintah gagal mengintegrasikan rakyat Papua ke dalam Indonesia tapi hanya berhasil mengintegrasikan Papua secara politis dan ekonomi. Penduduk Asli Papua berada diluar dari integrasi ideologi dan nasionalisme Indonesia.  Walaupun pendidikan dan kurikulum yang diterapkan  di Papua dari tingkat Taman Kanak-Kanak-Perguruan Tinggi  adalah sistem pendidikan Nasional Indonesia.
Kompas, pada Rabu, 20 Juni 2012 melaporkan: “Posisi Indonesia Memburuk. Urutan 63 Indeks Negara Gagal. Dalam Indeks Negara Gagal (Failed States Index/FSI) 2012 yang dipubikasikan di Washington  DC, Amerika Serikat, Senin (18/6), Indonesia menduduki peringkat ke-63 dari 178 Negara. Dalam posisi tersebut, Indonesia masuk kategori Negara-negara yang dalam bahaya (in danger) menuju Negara gagal”.  Berkaitan dengan laporan dari lembaga riset nirlaba The Fund for Peace (FFP) yang bekerja sama dengan Foreign Policy (Kebijakan Luar Negeri) yang menyatakan Indonesia menuju Negara gagal atau masuk dalam kategori Negara gagal, saya sudah berkali-kali menyampaikan kegagalan Negara  dalam opini saya sebelum laporan resmi ini diumumkan.     Seperti telah dimuat dalam Tabloit Jubi dan Bintang Papua, Kamis, 06 Oktober 2011: “TNI Gagal Melindungi dan Menjaga Integritas Manusia di Tanah Papua” dan pada  Pasific Post, Selasa, 20 Maret 2012 dan Bintang Papua, Kamis, 22 Maret 2012” Pemerintah Indonesia Gagal Membangun dan Melindungi Penduduk Asli Papua”.
“Tinggal soal waktu saja kita senang atau tidak, mau atau tidak akan kehilangan Papua karena kita gagal merebut hati orang Papua dan itu kesalahan bangsa sendiri dari awal”. (Dr.Adnan Buyung Nasution, S.H. :  sumber: Detiknews, Rabu, 16 Desember 2011).      “Di atas batu ini saya meletakkan peradaban orang Papua, sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat (termasuk:  Otonomi Khusus dan UP4B),  tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini, bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri”. ( Wasior, Manokwari, 25 Oktober 1925, Pdt. I.S. Kijne).  Shalom.